Isra’ Mi’raj adalah suatu peristiwa besar
yang sekarang oleh sains dan teknologi diakui, karena ternyata memang
demikianlah yang bisa terjadi bahwa Rasulullah benar-benar bergerak dari
Mekkah ke Palestina, dan kemudian diteruskan ke Sidratil Muntaha hanya
dalam waktu tidak sampai satu malam. Sudut pandang ilmiahnya bahwa ini
adalah peristiwa fenomenal dan kontroversial. Fenomena sejarah bahwa
peristiwa ini belum pernah terjadi dan diyakini takkan pernah terjadi
lagi.
Pertama, bahwa peristiwa ini sangat fenomenal dari segi sejarah,
karena sebelumnya tak pernah terjadi pada manusia. Sebelum Nabi Muhammad
memang pernah terjadi pada benda. Benda tersebut bisa berpindah tempat
dari satu tempat ke tempat yang jauh dalam orde sepersekian detik saja.
Itulah peristiwa berpindahnya singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba
ke Kerajaan Nabi Sulaiman. Waktu itu Nabi Sulaiman bertanya kepada para
stafnya yang ketika itu memang sengaja dikumpulkan olehnya. Nabi
Sulaiman mengatakan kepada para stafnya untuk melakukan suatu kejutan
terhadap Ratu Balqis yang ketika itu sedang menuju ke kerajaan Nabi
Sulaiman. Ternyata Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu
Balqis ke kerajaannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada para stafnya siapa
yang bisa melakukan hal tersebut. Yang mengajukan diri pertama kali
adalah Jin Ifrit. Ditanya oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa
memindahkannya. Dijawab oleh Jin Ifrit bahwa ia bisa melakukannya
sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya dijamin singgasana
itu sudah sampai di hadapannya. Tentunya hal ini sangat cepat, tapi
ternyata Nabi Sulaiman belum puas akan hal tersebut.
Kemudian Nabi Sulaiman bertanya lagi
kepada para stafnya siapa yang bisa lebih cepat melakukan hal tersebut.
Yang mengajukan diri kemudian ternyata adalah seorang manusia, yaitu
manusia yang menguasai ilmu dari al-Kitab. Orang itu kemudian ditanya
oleh Nabi Sulaiman berapa lama ia bisa melakukannya. Dijawab oleh orang
itu bahwa ia bisa melakukannya sebelum Nabi Sulaiman berkedip lagi.
Ternyata memang benar adanya, sebelum Nabi Sulaiman berkedip, singgasana
Ratu Balqis sudah berada di hadapannya. Satu kedipan mata berarti
waktunya kurang dari satu detik. Berkaitan dengan Isra’ Mi’raj, ternyata
perjalanan Nabi Muhammad tersebut terjadi dalam waktu tidak sampai satu
kedipan mata pun.
Kedua, fenomenal dari segi sains. Untuk
menjelaskan Isra’ Mi’raj, ternyata kita harus menggali ilmu-ilmu
mutakhir. Kalau ilmu-ilmu lama mungkin tak cukup untuk menjelaskan
peristiwa Isra’ Mi’raj. Sehingga di zaman itu orang memersepsikan bahwa
Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan mengendarai
Buraq. Buraq itu kemudian ada yang menggambarkan bentuknya seperti kuda
yang bersayap, ada juga yang menggambarkan bahwa kepala buraq itu
menyerupai manusia, bahkan ada juga yang menggambarkan kepala buraq itu
berupa wanita cantik. Pemikiran seperti ini tentunya khas abad
pertengahan, karena perjalanan tercepat ketika itu adalah dengan
mengendarai kuda. Tapi kuda pun tak bisa secepat itu. Karena itu
digambarkanlah kuda itu bersayap.
Dengan pendekatan secara saintifik
dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya perpindahan Rasulullah dari satu
tempat ke tempat lain pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi secara
cahaya. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini tentunya kontroversial hampir 1500
tahun di kalangan agamawan maupun para saintis karena memang sulit
menjelaskannya. Selalu ada yang tidak percaya, ragu-ragu, dan ada juga
yang meyakininya sejak masa hidupnya Rasulullah hingga kini. Yang
ragu-ragu sampai sekarang tentunya masih ada, bahkan di kalangan umat
Islam sendiri. Ketika ditanya apakah perjalanan Nabi Muhammad dari
Mekkah ke Palestina itu dengan badannya atau bukan. Ada yang mengatakan
bahwa itu hanya penglihatan saja. Ada juga yang mengatakan bahwa itu
hanya ruh saja. Ada yang mengatakan itu hanya mimpi. Dan ada yang
mengatakan bahwa peristiwa itu memang dialami Nabi Muhammad dengan
badannya.
Yang meyakini bahwa peristiwa Isra’
Mi’raj itu dialami Nabi Muhammad dengan badannya adalah mengacu kepada
Abu Bakar Shiddiq. Ketika itu Abu Bakar ditanya apakah dia meyakini
peristiwa tersebut. Lalu ditanyakan oleh Abu Bakar kepada yang bertanya
itu siapa yang menceritakan hal tersebut. Dijawab oleh yang bertanya
kepada Abu Bakar itu bahwa yang menceritakan hal tersebut adalah Nabi
Muhammad. Dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa kalau Nabi Muhammad yang
menceritakannya, maka ia meyakininya, karena Nabi Muhammad tak pernah
berbohong.
Cara Abu Bakar memersepsi mengenai Isra’
Mi’raj ini oleh sebagian kalangan dinyatakan bahwa beragama itu tak
perlu berpikir. Padahal jika dicermati bahwa sebenarnya ketika itu Abu
Bakar berpikir dahulu, karena ia menanyakan bahwa siapakah yang
menceritakan hal tersebut. Kalau memang Nabi Muhammad yang
menceritakannya, maka ia meyakini kebenaran yang diceritakan oleh Nabi
Muhammad itu. Tapi kalau yang menceritakannya bukan Nabi Muhammad
tentunya Abu Bakar takkan langsung meyakini kebenaran cerita tersebut.
Jadi dalam beragama memang kita harus berpikir, janganlah ikut-ikutan
saja. Perintahnya sangat jelas di dalam al-Quran: Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S. al-Isrâ’ [17]: 36)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentarnya